Mahasiswa KKN UNDIP Mulai Pengabdian di Desa Cibelok Taman, Dorong UMKM dan Potensi Lokal
Komando Bhayangkara, Pemalang – Sebanyak sepuluh mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang resmi memulai pengabdian masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Cibelok, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Selama 45 hari ke depan, para mahasiswa bertekad memahami kehidupan warga secara langsung sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Desa Cibelok.
Kedatangan rombongan KKN ini dipimpin oleh Haedar dari Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FSIP) selaku Koordinator Desa (Kordes). Posko kegiatan ditempatkan di kediaman Ketua Yayasan ABC, Ustad Ar-Rohman. Sebelum memulai program, para mahasiswa telah melaksanakan tradisi kulonuwun atau permohonan izin kepada perangkat desa serta tokoh masyarakat, sebagai wujud penghormatan terhadap prinsip "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung".
Berdasarkan pemetaan awal, potensi unggulan Desa Cibelok terletak pada sektor pertanian dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) skala rumahan. Produk unggulan yang sudah dikembangkan warga antara lain tempe, ikan asap, kelor asin, serta kerajinan batik. Namun, hingga saat ini produk-produk tersebut masih dijual secara umum di pasar tanpa kemasan dan identitas merek yang jelas, sehingga sulit dibedakan dengan barang dari daerah lain.
Merespons hal tersebut, tim KKN merancang program kerja berfokus pada penguatan pemasaran dan pengemasan produk. "Kami ingin membantu produk Desa Cibelok memiliki ciri khas sendiri yang mudah dikenali konsumen," ujar Haedar.
Pembagian tugas pun disesuaikan dengan latar belakang keahlian masing-masing mahasiswa, mahasiswa Kesehatan Masyarakat menangani edukasi higiene produksi, sedangkan mahasiswa Manajemen dan Logistik merancang strategi pemasaran serta desain kemasan.
Di samping pengembangan ekonomi, tim juga mencatat sejumlah tantangan lain yang dihadapi warga, antara lain kesulitan akses layanan kepesertaan dan pelayanan BPJS Kesehatan serta tingginya tumpukan sampah rumah tangga. Oleh karena itu, selain penguatan UMKM, mahasiswa juga akan menyelenggarakan edukasi pengolahan sampah mandiri dan pendampingan layanan kesehatan.
Menyadari keterbatasan waktu pelaksanaan, tim tidak menargetkan perubahan besar secara struktural. "Waktu 45 hari tidak cukup untuk mengubah kebiasaan masyarakat secara total. Prioritas kami adalah memberikan edukasi yang bermanfaat, meninggalkan dampak positif, dan menjadi jembatan solusi bagi warga," tambah Haedar.
Sementara itu, potensi seni budaya dan sejarah Desa Cibelok belum sempat menjadi fokus utama dalam program kali ini, namun diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan desa di masa mendatang. Kedatangan mahasiswa KKN ini diharapkan dapat menjadi awal sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat Desa Cibelok untuk memajukan potensi yang dimiliki. (bdn)