Kolaborasi Pemuda untuk Banda Neira Bersama Kapolsek Banda Hadir di Pulau Rhun, Menyapa Generasi Muda dari “Pulau yang Pernah Ditukar dengan Manhattan”
PULAU RHUN, MALUKU TENGAH — 11 Agustus 2026 — Semangat kolaborasi pemuda untuk merawat masa depan Kepulauan Banda terus bergerak hingga ke Pulau Rhun. Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Amerika–Eropa (PPI Dunia KAMEROP) bersama Organisasi Konservasi Kawan Alam Indonesia dari Bali, dengan dukungan Polsek Banda, hadir di Madrasah Aliyah Sairun, Pulau Rhun, dalam rangkaian program “Kolaborasi Pemuda untuk Banda Neira”.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian masyarakat sekaligus proses produksi film dokumenter “Merawat Masa Depan di Ujung Rempah”, yang mengangkat cerita masyarakat, pendidikan, lingkungan, sejarah, serta harapan generasi muda di Kepulauan Banda.
Kehadiran tim kolaborasi di Pulau Rhun semakin istimewa karena pulau kecil ini menyimpan sejarah besar dalam perjalanan perdagangan dunia. Pulau Rhun atau Run merupakan bagian dari Kepulauan Banda yang pada abad ke-17 menjadi salah satu pusat penting perdagangan pala.
Nama Pulau Rhun bahkan tercatat dalam sejarah dunia melalui Perjanjian Breda yang ditandatangani pada 31 Juli 1667. Dalam kesepakatan tersebut, Inggris menyerahkan Pulau Run kepada Belanda, sementara wilayah Manhattan yang ketika itu merupakan koloni Belanda bernama New Amsterdam diserahkan kepada Inggris. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dari sejarah hubungan kolonial Inggris dan Belanda.
Kini, ratusan tahun setelah peristiwa tersebut, Pulau Rhun tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah dunia, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi masyarakat dan generasi muda yang terus membangun masa depannya.
Dari Sejarah Dunia, Menyapa Mimpi Anak-Anak Pulau Rhun
Di Madrasah Aliyah Sairun, tim Kolaborasi Pemuda untuk Banda Neira menggelar sesi berbagi dan motivasi pendidikan kepada para siswa.
Para pelajar mendapatkan wawasan mengenai pentingnya melanjutkan pendidikan, berbagai pilihan perguruan tinggi, peluang menempuh pendidikan di luar daerah maupun luar negeri, serta pentingnya mempersiapkan diri sejak dini untuk meraih cita-cita.
Kegiatan tersebut dipimpin dari unsur PPI Dunia KAMEROP oleh Aurelia Aranti Vinton, Direktur Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa yang sedang menempuh pendidikan magister di KTH Royal Institute of Technology, Swedia.
Aurelia membagikan pengalaman perjalanan pendidikannya kepada para siswa. Kehadirannya menjadi gambaran nyata bahwa keterbatasan geografis bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
> “Kami ingin anak-anak di Pulau Rhun tahu bahwa tempat mereka tinggal bukanlah batas dari cita-cita mereka. Mereka berhak bermimpi setinggi mungkin, termasuk bermimpi untuk kuliah di luar daerah bahkan di luar negeri. Yang paling penting adalah berani memulai, terus belajar, dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada,” ujar Aurelia Aranti Vinton.
Pesan tersebut sejalan dengan tujuan kegiatan untuk membuka wawasan pelajar Pulau Rhun mengenai pilihan pendidikan dan mendorong mereka berani merencanakan masa depan.
Sementara itu, Wanda Syahputra, Co-Founder Kawan Alam Indonesia, menekankan bahwa pengabdian pemuda tidak hanya berbicara tentang hadir di suatu tempat, tetapi juga tentang membangun hubungan, mendengarkan masyarakat, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan serta daerah asal.
> “Bagi kami, Pulau Rhun bukan hanya sebuah titik di peta atau bagian dari sejarah rempah dunia. Di sini ada anak-anak muda yang memiliki mimpi, ada masyarakat yang memiliki cerita, dan ada lingkungan yang harus kita jaga bersama. Karena itu, merawat masa depan berarti merawat manusianya, pendidikannya, budayanya, sekaligus alamnya,” ujar Wanda Syahputra.
Menurutnya, kolaborasi antara pemuda Indonesia di luar negeri, organisasi konservasi, aparat kepolisian, sekolah dan masyarakat lokal menjadi contoh bahwa pembangunan masa depan dapat dimulai dari perjumpaan dan kerja bersama.
Kapolsek Banda: Polisi Hadir sebagai Penolong Masyarakat
Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dan pendampingan dari Kapolsek Banda, IPTU Muslim N. Renuf, S.H., yang hadir bersama tim di Pulau Rhun.
Kehadiran Kapolsek Banda dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini sekaligus memperlihatkan wajah Polri yang dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda dan masyarakat kepulauan.
Kehadiran tersebut relevan dengan semangat Program Polisi Penolong yang dikembangkan Baharkam Polri, yakni menghadirkan polisi yang responsif, adaptif dan berintegritas dalam melindungi, mengayomi serta melayani masyarakat.
Dalam konteks masyarakat kepulauan seperti Banda, semangat Polisi Penolong menjadi penting karena kehadiran aparat bukan hanya dalam aspek keamanan, tetapi juga membangun komunikasi, memberikan pelayanan, mendampingi masyarakat dan hadir dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
> “Polri harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya ketika ada persoalan keamanan. Kami juga harus hadir untuk mendukung kegiatan positif, pendidikan, generasi muda dan kegiatan sosial masyarakat. Inilah semangat Polisi Penolong, bagaimana keberadaan polisi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar IPTU Muslim N. Renuf, S.H., Kapolsek Banda.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas kelompok seperti ini merupakan bagian penting dalam membangun hubungan yang semakin dekat antara masyarakat, pemuda dan kepolisian.
Semangat tersebut sejalan dengan arah Baharkam Polri yang menempatkan Polisi Penolong sebagai bentuk kehadiran Polri yang melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat secara nyata.
Membawa Cerita Rhun ke Layar Lebar
Selain kegiatan pendidikan, kunjungan ke Pulau Rhun juga menjadi bagian dari proses produksi film dokumenter “Merawat Masa Depan di Ujung Rempah.”
Tim dokumenter merekam berbagai cerita dan realitas kehidupan masyarakat Pulau Rhun, mulai dari generasi muda, pendidikan, lingkungan hingga hubungan masyarakat dengan sejarah dan ruang hidupnya.
Bagi tim, dokumentasi tersebut bukan sekadar membuat gambar bergerak, tetapi menjadi upaya untuk menyimpan cerita Pulau Rhun agar dapat dikenali oleh generasi yang lebih luas.
Pulau yang pernah menjadi bagian dari sejarah besar perdagangan dunia itu kini menghadapi tantangan yang berbeda: bagaimana memastikan generasi mudanya tetap memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang dan menentukan masa depan mereka sendiri.
Karena itu, perjalanan “Kolaborasi Pemuda untuk Banda Neira” tidak berhenti pada cerita tentang masa lalu. Ia membawa pesan tentang masa depan.
Dari Pulau Rhun, para pemuda ingin menunjukkan bahwa sejarah besar tidak seharusnya hanya menjadi cerita yang dikenang, tetapi juga menjadi inspirasi untuk membangun masa depan.
Pulau Rhun mungkin pernah menjadi bagian dari pertukaran wilayah antara dua kekuatan kolonial dunia. Namun hari ini, yang ingin dipertukarkan bukan lagi pulau dan wilayah, melainkan pengetahuan, pengalaman, harapan dan semangat antargenerasi.
Melalui kolaborasi PPI Dunia KAMEROP, Kawan Alam Indonesia dan Polsek Banda, Pulau Rhun menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman pemuda Indonesia di luar negeri, semangat konservasi, pengabdian masyarakat dan kehadiran polisi yang humanis.
Kegiatan ini diharapkan terus menumbuhkan keberanian generasi muda Pulau Rhun untuk bermimpi, belajar dan mengambil peran dalam menjaga daerahnya.
Sebab, seperti tema film dokumenter yang sedang diproduksi:
“Merawat Masa Depan di Ujung Rempah.”
Dan dari Pulau Rhun, pesan itu kembali digaungkan:
Pulau Rhun mungkin berada di ujung peta, tetapi tidak pernah berada di ujung harapan.
Kolaborasi Pemuda untuk Banda Neira Bersama Kapolsek Banda Hadir di Pulau Rhun, Menyapa Generasi Muda dari “Pulau yang Pernah Ditukar dengan Manhattan”
Reviewed by Admin Kab. Semarang
on
Rating: