Adsterra

Breaking News

Pulau Pudut Jadi Panggung Kolaborasi, Konservasi Mangrove Didorong sebagai Ketahanan Nasional

TANJUNG BENOA, BALI — 30 AGUSTUS 2026 — Pulau Pudut, Tanjung Benoa, Bali, menjadi ruang bertemunya berbagai elemen dalam sebuah gerakan bersama untuk menjaga lingkungan. Mengusung tema “Konservasi sebagai Pilar Ketahanan Nasional”, kegiatan penanaman mangrove dan aksi bersih-bersih kawasan mangrove Tahura Ngurah Rai digelar pada Minggu (30/8/2026) dengan melibatkan unsur TNI, Polri, pemerintah, masyarakat adat, dunia usaha, kelompok masyarakat, akademisi, mahasiswa hingga komunitas lingkungan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2026, sekaligus menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Kolaborasi tersebut melibatkan Asosiasi Galangan Samudera Indonesia (AGSI), Kawan Alam Indonesia, Pangkalan Udara I Gusti Ngurah Rai, Pangkalan TNI Angkatan Laut Denpasar, Direktorat Polisi Air dan Udara Polda Bali, UPTD Tahura Ngurah Rai, Desa Adat Tanjung Benoa, Kelurahan Tanjung Benoa, Balaram Mangrove Heroes, Masyarakat Mitra Polhut, serta berbagai organisasi mahasiswa dan komunitas lingkungan.

Kehadiran berbagai unsur tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa konservasi membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Ekosistem mangrove tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan sungai, pesisir, laut, aktivitas masyarakat dan keberlangsungan ekonomi di wilayah sekitarnya.

Karena itu, Pulau Pudut dalam kegiatan ini bukan hanya menjadi lokasi penanaman mangrove, tetapi menjadi “panggung kolaborasi” tempat berbagai pihak mengambil peran nyata dalam menjaga ekosistem pesisir.

Dari Seremoni Menuju Gerakan Nyata

Rangkaian kegiatan diawali dengan seremoni yang dihadiri jajaran TNI-Polri, pemerintah, tokoh masyarakat, pengelola kawasan konservasi, dunia usaha, kelompok masyarakat, mahasiswa dan komunitas lingkungan.

Setelah laporan ketua pelaksana dan rangkaian sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan simbolis bibit mangrove kepada sejumlah perwakilan instansi, lembaga, organisasi dan kelompok masyarakat.

Penyerahan tersebut menjadi simbol bahwa tanggung jawab terhadap kelestarian mangrove bukan hanya berada pada pengelola kawasan. Setiap pihak memiliki peran dalam memastikan kawasan yang ditanam hari ini dapat terus dijaga dan dirawat.

Komitmen tersebut kemudian diterjemahkan dalam aksi lapangan. Setelah pengarahan teknis dan pembagian kelompok, peserta bergerak menuju Pal 9, kawasan Pulau Pudut, untuk melaksanakan penanaman mangrove.

Namun kegiatan tidak berhenti pada penanaman.

Peserta juga melakukan aksi bersih-bersih kawasan mangrove Tahura Ngurah Rai, mulai dari sekitar Pal 9 hingga menyusuri aliran sungai menuju arah Pura Deluang Sari.

Sampah yang ditemukan sepanjang kawasan dikumpulkan oleh peserta untuk kemudian dikoordinasikan dalam proses penanganan lebih lanjut.

Rangkaian tersebut menjadi pesan penting bahwa menjaga ekosistem pesisir bukan hanya tentang menambah tutupan vegetasi, tetapi juga memastikan lingkungan di sekitarnya tetap bersih dan sehat.


AGSI: Kolaborasi Harus Menjadi Budaya dalam Konservasi

Ketua Umum Asosiasi Galangan Samudera Indonesia, Alif Fian Nurcahyamto, mengatakan bahwa keterlibatan dunia usaha dalam kegiatan konservasi merupakan bentuk tanggung jawab bersama terhadap keberlanjutan lingkungan.

Menurutnya, dunia usaha tidak dapat berdiri terpisah dari persoalan lingkungan karena keberlanjutan aktivitas ekonomi juga sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang sehat.

“Konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas lingkungan. Dunia usaha juga harus mengambil bagian. Yang kita lakukan hari ini adalah bagaimana kepedulian itu diwujudkan dalam aksi nyata.”

Ia menilai kolaborasi yang dilakukan di Pulau Pudut dapat menjadi contoh bahwa berbagai sektor dapat duduk bersama dan mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

“Harapannya bukan hanya hari ini kita menanam, kemudian selesai. Yang lebih penting adalah bagaimana ada kepedulian bersama untuk merawat kawasan ini secara berkelanjutan.”

Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk membangun pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan.


Kawan Alam Indonesia: Pulau Pudut Menjadi Contoh Bahwa Konservasi Butuh Banyak Tangan

Founder Kawan Alam Indonesia, Henny Paula Sitohang, mengatakan bahwa pemilihan Pulau Pudut sebagai lokasi kegiatan memiliki pesan penting karena kawasan pesisir membutuhkan perhatian dan keterlibatan banyak pihak.

Menurutnya, konservasi tidak dapat dilakukan hanya dengan pendekatan seremonial.

“Hari ini kita ingin menunjukkan bahwa konservasi itu membutuhkan banyak tangan. Ada TNI, Polri, pemerintah, masyarakat adat, dunia usaha, kelompok nelayan, mahasiswa, komunitas dan relawan. Semua punya peran.”

Ia menjelaskan bahwa kegiatan penanaman mangrove sengaja dipadukan dengan aksi bersih-bersih untuk memperlihatkan hubungan antara satu ekosistem dengan ekosistem lainnya.

“Kita menanam mangrove, tetapi kita juga membersihkan sungai dan kawasan di sekitarnya. Karena mangrove, sungai dan laut merupakan satu kesatuan. Kalau kita ingin pesisir sehat, kita juga harus menjaga apa yang mengalir menuju pesisir.”

Henny juga mengaitkan gerakan konservasi dengan konsep ketahanan nasional.

“Ketahanan nasional tidak hanya bicara tentang pertahanan dan keamanan. Ketika lingkungan rusak, masyarakat pesisir terdampak dan sumber daya alam terganggu, maka ketahanan masyarakat juga ikut terdampak.”

Karena itu, menurutnya, konservasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan jangka panjang.

“Menanam adalah awal. Setelah itu ada tanggung jawab untuk merawat, menjaga dan memastikan ekosistemnya tetap hidup.”



Danlanud: Kolaborasi Lingkungan adalah Bagian dari Pengabdian

Komandan Pangkalan Udara I Gusti Ngurah Rai, Kolonel PNB David Dwi Martin W., S.M., menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, kegiatan konservasi merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan sekaligus sarana memperkuat hubungan antara TNI dengan masyarakat.

“Menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama. Ketika kita menjaga alam, kita juga sedang menjaga kehidupan masyarakat dan masa depan generasi berikutnya.”

Danlanud menilai keterlibatan berbagai unsur dalam kegiatan di Pulau Pudut menjadi kekuatan tersendiri.

“Hari ini kita melihat banyak pihak berkumpul dan bergerak bersama. Ada TNI, Polri, pemerintah, masyarakat dan komunitas. Ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan memang harus dihadapi bersama.”

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada satu momentum, tetapi dapat menjadi awal dari semakin banyaknya kolaborasi dalam menjaga lingkungan

“Semangat gotong royong seperti ini harus terus kita pertahankan. Konservasi bukan pekerjaan satu hari, tetapi pekerjaan bersama yang membutuhkan konsistensi.”


Danlanal: Menjaga Laut Dimulai dari Menjaga Pesisir

Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Denpasar, Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa, S.T., M.M.S., menegaskan bahwa menjaga laut tidak dapat dipisahkan dari menjaga wilayah pesisir dan ekosistem yang menopangnya.

Menurutnya, mangrove memiliki posisi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dan menjadi bagian dari rantai kehidupan berbagai biota laut.

“Kalau kita berbicara tentang menjaga laut, kita tidak bisa hanya melihat lautnya saja. Pesisir, mangrove dan sungai merupakan satu kesatuan ekosistem yang saling berhubungan.”

Karena itu, menurutnya, penanaman mangrove dan pembersihan kawasan merupakan langkah konkret yang perlu terus dilakukan.

“Kegiatan seperti ini harus terus didukung karena dampaknya bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk masyarakat yang kehidupannya bergantung pada wilayah pesisir dan laut.”

Danlanal juga memberikan apresiasi terhadap keterlibatan generasi muda dan komunitas dalam kegiatan tersebut.


“Yang paling penting adalah membangun kesadaran. Kalau masyarakat sudah memiliki kepedulian terhadap lingkungannya, maka upaya menjaga laut dan pesisir akan menjadi gerakan bersama.”

Menurutnya, sinergi antara TNI, Polri, pemerintah, masyarakat dan komunitas merupakan modal penting untuk menjaga wilayah pesisir secara berkelanjutan.


UPTD Tahura Ngurah Rai: Kawasan Konservasi Membutuhkan Kepedulian Bersama

Kepala UPTD Tahura Ngurah Rai, I Putu Agus Juliartawan, mengatakan bahwa kawasan Tahura Ngurah Rai memiliki fungsi ekologis penting dan membutuhkan dukungan berbagai pihak dalam pengelolaannya.

Menurutnya, keberadaan mangrove memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus menjadi habitat bagi berbagai jenis biota.

“Tahura Ngurah Rai merupakan kawasan yang harus kita jaga bersama. Pemerintah dan pengelola kawasan tidak bisa bekerja sendiri.”

Ia menyambut baik keterlibatan masyarakat, TNI-Polri, dunia usaha, organisasi dan komunitas dalam kegiatan tersebut.

“Penanaman mangrove harus berjalan bersama dengan pemeliharaan kawasan. Kalau kita menanam tetapi kawasan tidak dijaga, hasilnya tentu tidak akan maksimal.”

Menurutnya, kegiatan bersih-bersih juga memiliki nilai penting karena sampah yang masuk ke sungai pada akhirnya dapat bermuara ke kawasan pesisir.

“Karena itu, edukasi dan kepedulian masyarakat sangat penting. Kita ingin masyarakat bukan hanya datang untuk menanam, tetapi juga memahami bagaimana menjaga kawasan setelah kegiatan selesai.”


Pulau Pudut dan Pesan tentang Ketahanan Nasional

Kegiatan di Pulau Pudut memperlihatkan bahwa isu konservasi dapat menjadi titik temu berbagai kepentingan.

Bagi masyarakat, ekosistem pesisir berkaitan dengan kehidupan dan mata pencaharian. Bagi pemerintah, kawasan mangrove merupakan bagian dari upaya menjaga fungsi ekologis. Bagi dunia usaha, keberlanjutan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab sosial. Sementara bagi TNI dan Polri, keterlibatan dalam kegiatan lingkungan menjadi bagian dari pengabdian dan penguatan sinergi bersama masyarakat.

Bagi generasi muda dan komunitas, kegiatan ini menjadi ruang untuk terlibat langsung sekaligus belajar bahwa menjaga lingkungan membutuhkan tindakan nyata.

Dari perspektif tersebut, tema “Konservasi sebagai Pilar Ketahanan Nasional” mendapatkan makna yang lebih luas.

Ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui kekuatan pertahanan, tetapi juga melalui lingkungan yang sehat, sumber daya alam yang terjaga, masyarakat yang tangguh serta ekosistem yang mampu menopang kehidupan.


Menanam Hari Ini, Menjaga untuk Generasi Mendatang

Kegiatan di Pulau Pudut pada akhirnya bukan sekadar tentang berapa banyak bibit mangrove yang ditanam atau berapa banyak sampah yang berhasil dikumpulkan.

Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi upaya mempertemukan berbagai pihak dalam satu kepentingan yang sama: menjaga alam dan memastikan keberlanjutannya.

Dari Pal 9 hingga aliran sungai menuju Pura Deluang Sari, peserta diajak melihat langsung bahwa ekosistem memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan.

Mangrove membutuhkan kawasan yang sehat. Pesisir membutuhkan mangrove. Laut membutuhkan pesisir yang terjaga. Dan masyarakat membutuhkan seluruh ekosistem tersebut untuk terus memberikan manfaat bagi kehidupan.

Pulau Pudut pun menjadi saksi bahwa ketika berbagai unsur bergerak bersama, konservasi tidak lagi hanya menjadi sebuah wacana, tetapi berubah menjadi aksi nyata.

Dari Pulau Pudut, kolaborasi itu dimulai.
Menanam mangrove untuk menjaga pesisir.
Membersihkan sungai untuk menjaga laut.
Merawat alam untuk menjaga kehidupan.

Dan pada akhirnya, menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga Indonesia.
Pulau Pudut Jadi Panggung Kolaborasi, Konservasi Mangrove Didorong sebagai Ketahanan Nasional Pulau Pudut Jadi Panggung Kolaborasi, Konservasi Mangrove Didorong sebagai Ketahanan Nasional Reviewed by Admin Kab. Semarang on Rating: 5