Breaking News

Panglima TNI Cek Penerapan Silacak di Sidoarjo dan Kabupaten Malang


Komando Bhayangkara - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengunjungi Puskesmas Porong Sidoarjo dan dua Puskesmas di Malang. Hadi mengecek penerapan aplikasi Silacak.

Rombongan tiba di Puskesmas Porong sekitar pukul 13.30 WIB. Turut hadir mendampingi Panglima TNI yakni Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Suharyanto, Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta, Danrem 084 Bhaskara Jaya Brigjen TNI Herman Hidayat Eko Atmojo, beserta Forkopimda Sidoarjo.

"Kunjungan Panglima TNI ke shelter isolasi di Puskesmas Porong itu untuk mengetahui sejauh mana proses pelacakan atau tracing, dari masyarakat yang terkena itu segera didapatkan," kata Herman Hidayat di Porong, Sabtu (31/7/2021)

Herman menjelaskan, ada dua cara menggunakan Silacak dan InarisK. Setelah diketahui, kemudian ada petugas dari Babinsa memfoto langsung diketahui lokasi masyarakat yang terpapar positif COVID-19.

"Kemudian empat pilar yang ada di wilayah, ada TNI, Polri, kepala desa dan bidan desa bisa bekerja sama. Dalam pelacakan tersebut, pelacakan dengan menggunakan elektronik dan manual. Kalau hal itu sulit dilakukan karena ada beberapa faktor itu akan sulit dilaporkan langsung," jelas Herman.

Ia menambahkan, tujuannya agar cepat. Detik itu melaksanakan pelacakan, kemudian difoto dan dikirim langsung sehingga diketahui oleh pusat. Dengan mendatangi shelter di Porong, Panglima TNI menanyakan ke petugas empat pilar, keluhannya seperti apa.

"Alhamdulillah semua petugas empat pilar di wilayah Sidoarjo itu sudah siap dan mengerti dan siap bertugas," terangnya

"Kami mengharapkan, bagi masyarakat itu jangan merasa enggan bila ada gejala alangkah baiknya ke isolasi terpusat. Agar tingkat penularan ke keluarga sangat kecil. Selain itu pengawasan dalam memberikan obat itu juga sangat mudah," imbuh Herman.

Sekitar pukul 13.55 WIB, Panglima TNI dan rombongan meninggalkan Puskesmas Porong. Mereka kemudian mengecek langsung penerapan aplikasi Silacak di Kabupaten Malang. Aplikasi Silacak digunakan untuk memudahkan penanganan COVID-19 oleh petugas tracer.

Dari mulai memasukkan data pasien COVID-19, kontak erat dan pasien sembuh. Panglima TNI datang bersama Kepala BNPB Letjen TNI Ganip Waskito serta Kabaharkam Komjen Pol Arief Sulistyanto.

Khofifah Minta Bantuan Unair untuk Input Data Tracing

Rombongan meninjau dua lokasi yakni Puskesmas Lawang dan Puskesmas Ardimulyo, Singosari. Kesiapan petugas tracer meliputi Babinsa, Bhabinkamtibmas dan Babinpotdirga kemudian diuji secara langsung.

Di Puskesmas Ardimulyo, Panglima TNI berbincang dengan petugas-petugas kesehatan dan aparat TNI-Polri yang mengawal proses tracing pasien COVID-19.

"Ada berapa, untuk aplikasi Silacak, kita bawakan laptop baru, langsung dipraktikkan Babinsa, sama Bhabinkamtibmas. Silakan. Akun Silacak sudah punya Sugianto," ucap Marsekal TNI Hadi kepada salah satu petugas Bhabinkamtibmas.

Dalam kesempatan tersebut Panglima TNI melakukan pengecekan langsung cara operasional pengaplikasian Silacak, yang disampaikan oleh Babinsa, Bhabinkamtibmas dan Babinpotdirga. Di antaranya dengan menghubungi langsung suspect serta melaksanakan prosedur sesuai aplikasi dengan melaksanakan tracing dilanjutkan dengan swab, dan jika positif langsung masuk isoter yang ada di daerah setempat.

Selain itu, Panglima TNI juga meminta tambahan pelatihan bagi personel yang memiliki kemampuan IT serta kerja sama dari TNI, Polri beserta Dinas Kesehatan dan penyediaan layanan kesehatan di daerah.
Namun saat dilakukan pemasukan data ini terlihat para petugas Bhabinkamtibmas dan Babinsa tampak kesulitan. Beberapa kali jaringan internet pun tak lancar sehingga terkendala pada proses input data.

"Isoter berapa lama? OTG ringan. Setelah itu apa yang dilaksanakan? Kalau sudah negatif, hari kelima akan kita ulang kembali. Nanti dibantu, bidan desa, kepala Puskesmas. Jadi konfirmasi pertama itu adalah OTG, tanpa gejala, itu entry test 10 hari kemudian exit test, kalau negatif bisa pulang. Kalau dengan gejala 10+3, laksanakan exit test, negatif, pulang," ungkap Hadi.

Sementara Kepala Puskesmas Ardimulyo, Sri Ratna Murti menyatakan, aplikasi ini merupakan bagian dari penanganan COVID-19. Di mana data real time pasien COVID-19 bisa terpantau secara langsung.

"Aplikasi itu ada dua, pertama Silacak, itu adalah aplikasi dari Kemenkes yang dibuat untuk mencatat kasus positif. Ini memang sudah ada pelatihannya. Sedangkan yang satunya, itu baru saja. Babin mengatakan baru kemarin sore. Saya juga belum pernah buka," kata Ratna Murti terpisah.

Diakui Ratna, aplikasi Silacak ini bisa memudahkan tenaga kesehatan dan tim tracing untuk melakukan pelacakan. Sebab data-data pasien COVID-19 akan lebih bisa terpantau secara langsung.

"Aplikasi ini real time, terjadi di sini, bisa dipantau dari pusat. Input data pasien konfirmasi. Kalau di desa, itu ada Bhabinkamtibmas, babinsa, perangkat desa, petugas pembina desa, jadi ada lima orang," terang dia.

"Suspect masuk. Jadi begitu ada yang positif satu, itu harus mencari, misalnya, saya, kita serumah, data semua langsung masuk. Kemudian dilakukan tes, itu terekam. Masyarakat umum tidak bisa, khusus untuk tracer. Karena harus punya akun," pungkasnya. (MKB/DETIK)

Foto: Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengunjungi Puskesmas Porong Sidoarjo (kiri)/Foto: Suparno
Panglima TNI Cek Penerapan Silacak di Sidoarjo dan Kabupaten Malang Panglima TNI Cek Penerapan Silacak di Sidoarjo dan Kabupaten Malang Reviewed by Komando Bhayangkara on Rating: 5

Tidak ada komentar