Kawan Alam Indonesia Siapkan Gerakan Lingkungan 2027, Gandeng Peraih Kalpataru dan Pusdal LH Menuju HPSN 2027 di Ambon
AMBON, MALUKU — Kawan Alam Indonesia mulai menyiapkan sebuah agenda besar gerakan lingkungan untuk tahun 2027 yang akan diarahkan pada penguatan pengelolaan sampah, kolaborasi dunia usaha, pemberdayaan masyarakat serta pembangunan ekosistem lingkungan berbasis Pentahelix di Maluku.
Langkah tersebut diawali melalui pertemuan strategis Kawan Alam Indonesia bersama Wutmaili Romuti, S.Pd., S.T., M.T., peraih Kalpataru 2026 yang akrab disapa Pak Uce, dan Suwardi, S.T.P., M.Si., Kepala Bidang Wilayah III Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku, Kementerian Lingkungan Hidup.
Pertemuan ini menjadi bagian dari proses awal Kawan Alam Indonesia dalam menyusun roadmap program lingkungan 2027, dengan target utama menghadirkan sebuah gerakan yang tidak berhenti pada kegiatan kampanye atau aksi bersih lingkungan, tetapi mampu mempertemukan berbagai pihak untuk membangun sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Kawan Alam Indonesia memproyeksikan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2027 pada 21 Februari 2027 di Ambon, Maluku, sebagai momentum puncak dari rangkaian program tersebut.
Dalam konsep awal yang sedang dimatangkan, HPSN 2027 akan dikembangkan menjadi ruang temu Pentahelix Maluku, yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas/masyarakat dan media dalam satu forum gerakan lingkungan.
Kawan Alam Ingin Membangun Gerakan, Bukan Sekadar Event
Co-Founder Kawan Alam Indonesia, Wanda Syahputra, mengatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari langkah Kawan Alam Indonesia untuk mulai mempersiapkan program lingkungan 2027 secara lebih serius dan terarah.
Menurutnya, pengalaman Kawan Alam Indonesia selama menjalankan berbagai kegiatan lingkungan dan konservasi menjadi modal untuk mengembangkan program yang lebih besar dan memiliki kesinambungan.
> “Kawan Alam Indonesia ingin mulai menyiapkan sesuatu yang lebih besar untuk 2027. Selama ini kita banyak melakukan kegiatan di lapangan, mulai dari konservasi, edukasi, aksi lingkungan sampai pengelolaan sampah. Sekarang kami ingin pengalaman tersebut kita rangkai menjadi sebuah gerakan yang punya roadmap dan tujuan yang jelas,” ujar Wanda.
Ia menegaskan, Kawan Alam Indonesia tidak ingin menjadikan HPSN 2027 sekadar sebagai satu kegiatan seremonial.
> “HPSN 2027 nanti bukan titik awal, tetapi menjadi puncak dari proses yang kita bangun sepanjang 2027. Kami ingin ada proses edukasi, pendampingan, kolaborasi dengan dunia usaha, penguatan komunitas, dokumentasi dan akhirnya semua bertemu di Ambon pada 21 Februari 2027,” jelasnya.
Menurut Wanda, posisi Kawan Alam Indonesia dalam gagasan tersebut adalah sebagai penggerak kolaborasi, khususnya dalam menjembatani komunitas, masyarakat, generasi muda, dunia usaha, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan lingkungan.
Menghubungkan Komunitas dengan Dunia Usaha
Salah satu fokus yang tengah dipersiapkan Kawan Alam Indonesia adalah membangun model kolaborasi dengan dunia usaha dalam pengelolaan sampah.
Hal ini juga akan dikaitkan dengan semangat pengurangan sampah oleh produsen sebagaimana diatur dalam Permen LHK Nomor P.75/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.
Kawan Alam melihat terdapat peluang untuk membangun ruang kolaborasi antara perusahaan yang memiliki komitmen dan praktik pengelolaan sampah yang baik dengan masyarakat dan komunitas lingkungan.
“Ke depan kami ingin mengidentifikasi dan mendokumentasikan perusahaan-perusahaan yang memiliki praktik baik dalam pengelolaan sampah dan lingkungan. Dari situ kita bisa belajar, memberikan apresiasi, sekaligus mendorong perusahaan lain untuk melakukan hal yang sama,” kata Wanda.
Atas dasar itu, salah satu agenda yang direncanakan pada puncak HPSN 2027 adalah pemberian penghargaan kepada perusahaan atau pelaku usaha yang dinilai berhasil menjalankan praktik pengelolaan sampah dan lingkungan secara baik, inovatif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Penghargaan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi simbol apresiasi, tetapi juga menjadi pemantik munculnya kompetisi positif di kalangan dunia usaha dalam meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan.
Pak Uce: Kawan Alam Punya Peran Menggerakkan Masyarakat
Peraih Kalpataru 2026, Wutmaili Romuti, memberikan apresiasi terhadap gagasan Kawan Alam Indonesia untuk membangun program lingkungan secara berkelanjutan.
Menurut Pak Uce, kekuatan utama gerakan lingkungan berada pada kemampuan untuk menghubungkan berbagai pihak dan memastikan masyarakat menjadi bagian dari proses perubahan.
> “Saya melihat Kawan Alam punya semangat untuk menggerakkan banyak pihak. Ini penting, karena persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Pemerintah tidak bisa sendiri, komunitas tidak bisa sendiri, perusahaan juga tidak bisa sendiri,” ungkap Pak Uce.
Ia menilai program 2027 harus dibangun melalui proses yang konsisten dan tidak hanya berorientasi pada kegiatan puncak.
> “Kalau mau membuat gerakan, kita harus mulai dari sekarang. Kita bicara edukasi, perubahan perilaku, pengelolaan sampah dari sumber, kemudian bagaimana dunia usaha ikut mengambil tanggung jawab. Semua itu harus berjalan bersama,” ujarnya.
Pak Uce juga menilai pengalaman lokal masyarakat Maluku harus menjadi kekuatan utama dalam membangun model pengelolaan lingkungan.
“Maluku punya banyak orang dan komunitas yang sudah bergerak. Tinggal bagaimana gerakan-gerakan itu kita hubungkan, diperkuat dan diberikan ruang untuk berkembang. Saya kira itu yang penting,” tambahnya.
Pusdal LH: Kolaborasi Harus Mendorong Perubahan Nyata
Sementara itu, Suwardi, S.T.P., M.Si., Kepala Bidang Wilayah III Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku, menyambut positif inisiatif Kawan Alam Indonesia dalam menyusun agenda lingkungan 2027.
Suwardi mengatakan bahwa persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, akademisi, komunitas dan dunia usaha.
> “Pengelolaan lingkungan ini merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu kolaborasi seperti yang sedang dibangun Kawan Alam ini penting untuk mempertemukan berbagai pihak dan mencari solusi yang dapat diterapkan di lapangan,” kata Suwardi.
Menurutnya, dunia usaha juga memiliki peran penting dalam mendukung pengelolaan lingkungan, termasuk pengurangan dan pengelolaan sampah.
“Yang kita harapkan bukan hanya sekadar kegiatan, tetapi ada perubahan dan peningkatan kinerja. Perusahaan harus semakin baik dalam mengelola lingkungannya, masyarakat semakin sadar, dan pemerintah dapat melakukan pembinaan serta pengawasan sesuai kewenangannya,” jelasnya.
Suwardi juga membuka ruang bagi penguatan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dalam mendukung agenda lingkungan di wilayah Maluku.
Bagi Kawan Alam Indonesia, dukungan dan perspektif Pusdal LH tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam penyusunan roadmap program 2027.
HPSN 2027 Diproyeksikan Menjadi Panggung Pentahelix Maluku
Kawan Alam Indonesia memproyeksikan 21 Februari 2027 bukan hanya sebagai tanggal pelaksanaan HPSN, tetapi sebagai momentum untuk memperlihatkan berbagai praktik baik pengelolaan lingkungan yang telah dibangun sepanjang proses program.
Ambon direncanakan menjadi ruang temu berbagai elemen:
Pemerintah, Akademisi, Dunia Usaha, Komunitas/Masyarakat dan Media.
Kelima unsur tersebut diharapkan dapat duduk bersama membahas tantangan pengelolaan sampah dan lingkungan di Maluku sekaligus menampilkan berbagai inovasi dan praktik baik yang sudah berjalan.
Wanda mengatakan, Kawan Alam Indonesia ingin menjadikan HPSN 2027 sebagai momentum yang memiliki cerita.
> “Kami ingin ketika orang datang ke HPSN 2027 di Ambon, mereka tidak hanya datang menghadiri acara. Mereka datang melihat hasil dari proses yang sudah berjalan. Ada cerita masyarakat, ada cerita komunitas, ada cerita perusahaan, ada cerita pemerintah dan ada cerita anak muda yang bergerak untuk lingkungan,” tuturnya.
Kawan Alam Siapkan Film Dokumenter Lingkungan
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kawan Alam Indonesia juga berencana memproduksi film dokumenter lingkungan yang akan menjadi salah satu bagian penting menuju puncak HPSN 2027.
Film tersebut direncanakan mengangkat perjalanan gerakan pengelolaan sampah dan lingkungan di Maluku, mulai dari persoalan yang dihadapi, sosok penggerak, praktik baik masyarakat dan komunitas, hingga perusahaan yang mampu menunjukkan inovasi dalam pengelolaan sampah dan lingkungan.
Bagi Kawan Alam Indonesia, film dokumenter ini bukan hanya produk audiovisual, tetapi menjadi arsip gerakan lingkungan Maluku sekaligus media edukasi yang dapat membawa cerita dari lapangan kepada masyarakat yang lebih luas.
> “Kami ingin film ini menjadi wajah dari gerakan yang sedang kita bangun. Bukan sekadar film tentang sampah, tetapi tentang manusia yang bergerak, tentang kolaborasi dan tentang bagaimana Maluku bisa punya cerita sendiri dalam merawat lingkungannya,” kata Wanda.
Film tersebut direncanakan akan ditayangkan dalam rangkaian puncak HPSN 2027 di Ambon.
Dari Ambon untuk Gerakan Lingkungan Maluku
Pertemuan Kawan Alam Indonesia bersama Pak Uce dan Pusdal LH Bidang Wilayah III menjadi salah satu langkah awal dalam menyatukan gagasan menuju agenda 2027.
Kawan Alam Indonesia akan melanjutkan proses penyusunan konsep dengan melakukan pemetaan calon mitra, pemetaan perusahaan dan praktik baik pengelolaan sampah, penyusunan indikator penghargaan, pengembangan program edukasi masyarakat, penguatan jejaring komunitas, serta persiapan produksi film dokumenter.
Seluruh proses tersebut diarahkan menuju satu momentum besar:
Hari Peduli Sampah Nasional 2027 – 21 Februari 2027, Ambon, Maluku.
Kawan Alam Indonesia berharap momentum tersebut nantinya dapat menjadi ruang temu Pentahelix Maluku, sekaligus memperlihatkan bahwa pengelolaan lingkungan bukan hanya tugas satu institusi, melainkan gerakan bersama yang membutuhkan keberanian untuk berkolaborasi.
> “Kami ingin memulai dari Ambon. Dari Maluku kita bangun ceritanya, kita dokumentasikan gerakannya, kita apresiasi yang sudah berbuat baik dan kita ajak lebih banyak orang untuk menjadi bagian dari solusi. Karena bagi Kawan Alam Indonesia, menjaga lingkungan bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang bagaimana kita menyiapkan masa depan,” tutup Wanda.
Kawan Alam Indonesia Siapkan Gerakan Lingkungan 2027, Gandeng Peraih Kalpataru dan Pusdal LH Menuju HPSN 2027 di Ambon
Reviewed by Admin Kab. Semarang
on
Rating: