Seminar Nasional Festival PESONA Tahura Ngurah Rai 2026 Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Konservasi
DENPASAR, BALI – Peran generasi muda dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan menjadi salah satu perhatian utama dalam Seminar Nasional bertajuk “Bersuara untuk Hutan, Bergerak untuk Masa Depan” yang diselenggarakan sebagai bagian dari Festival PESONA Tahura Ngurah Rai 2026 di Wantilan G20, kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Bali, Sabtu (31/10/2026). Melalui forum tersebut, generasi muda didorong untuk tidak hanya memahami persoalan lingkungan, tetapi juga mengambil peran aktif melalui edukasi, kepatuhan terhadap regulasi, dan keterlibatan dalam aksi konservasi berkelanjutan.
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber dari unsur pemerintah dan organisasi konservasi, yakni Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Bali, Samsul Hernoto, S.S., M.M.; Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Rai Dharmadi; serta Founder Kawan Alam Indonesia, Henny Paula Sitohang, S.S. Ketiganya memberikan perspektif berbeda mengenai keterkaitan antara ketahanan lingkungan, kepatuhan terhadap aturan, serta pentingnya membangun gerakan konservasi yang melibatkan masyarakat, khususnya generasi muda.
Kegiatan ini diikuti oleh unsur pemerintah, mahasiswa, pelajar, 45 Kader Konservasi Alam Bali, organisasi kepemudaan, komunitas lingkungan, dan berbagai elemen masyarakat. Pertemuan lintas sektor tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif kebijakan, keamanan, ketertiban, pendidikan, dan gerakan masyarakat dalam menjawab tantangan pelestarian lingkungan.
Dalam pemaparannya, Kabinda Bali Samsul Hernoto, S.S., M.M., mengangkat keterkaitan antara persoalan lingkungan dan ketahanan nasional. Kerusakan hutan, degradasi ekosistem pesisir, perubahan iklim, serta ancaman terhadap keanekaragaman hayati tidak hanya berdampak terhadap keseimbangan ekologis, tetapi juga berpotensi memengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, dan keberlanjutan suatu wilayah.
Perspektif tersebut menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan bangsa. Kesadaran terhadap ancaman lingkungan perlu dibangun sejak dini agar generasi muda mampu memahami berbagai risiko, mengenali tantangan di wilayahnya, serta mengambil bagian dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Dengan demikian, konservasi tidak hanya dipandang sebagai kegiatan perlindungan alam, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama dalam menjaga masa depan masyarakat dan bangsa.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Rai Dharmadi, menyoroti pentingnya membangun kesadaran masyarakat terhadap ketertiban, kepatuhan pada peraturan daerah, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan. Menurut perspektif yang disampaikan, berbagai persoalan lingkungan juga berkaitan dengan perilaku masyarakat sehari-hari, mulai dari pengelolaan sampah, perlindungan ruang publik, ketertiban kawasan, hingga kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Upaya menjaga lingkungan, karena itu, tidak cukup hanya mengandalkan pengawasan dan penegakan aturan. Diperlukan kesadaran masyarakat untuk membangun perilaku disiplin dan bertanggung jawab sehingga kepatuhan terhadap regulasi berjalan seiring dengan tumbuhnya budaya peduli lingkungan. Dalam konteks tersebut, generasi muda memiliki ruang strategis untuk menjadi pelopor perubahan perilaku, baik di lingkungan pendidikan maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Dari perspektif gerakan konservasi berbasis masyarakat, Founder Kawan Alam Indonesia, Henny Paula Sitohang, S.S., menekankan bahwa generasi muda perlu diberikan ruang yang lebih luas untuk terlibat langsung dalam berbagai agenda pelestarian lingkungan. Mahasiswa dan pelajar diharapkan tidak hanya menjadi peserta kegiatan edukasi, tetapi juga dapat berkembang menjadi penggagas, penggerak, serta mitra strategis dalam mendorong perubahan di tengah masyarakat.
“Konservasi tidak cukup hanya dengan kepedulian dan kampanye. Kita perlu bergerak bersama, mengambil bagian, dan menghadirkan tindakan nyata. Jangan sampai kita hanya menjadi generasi yang lantang berbicara tentang persoalan lingkungan, tetapi tidak ikut mengambil peran dalam menyelesaikannya,” ujarnya.
Henny juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, komunitas lingkungan, dunia pendidikan, organisasi kepemudaan, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Menurutnya, setiap pihak memiliki potensi dan sumber daya yang dapat dipertemukan untuk memperkuat gerakan konservasi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Semangat kita adalah ‘Bukan Cuma Peduli, Tapi Turun Tangan’. Kita ingin setiap orang memiliki ruang untuk berkontribusi, sekecil apa pun langkahnya, karena masa depan lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama,” tambahnya.
Seminar nasional tersebut merupakan salah satu agenda edukasi dalam Festival PESONA Tahura Ngurah Rai 2026 yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026. Festival yang diselenggarakan melalui kolaborasi UPTD Tahura Ngurah Rai bersama Kawan Alam Indonesia (KAI) ini mengusung tema “Knowing, Learning, Loving” dengan semangat “Youth Collaborative Eco-Movement”, yang menempatkan pengetahuan, pembelajaran, dan kecintaan terhadap alam sebagai landasan untuk membangun keterlibatan masyarakat dalam aksi konservasi.
Pemilihan Tahura Ngurah Rai sebagai lokasi kegiatan juga memberikan konteks pembelajaran langsung bagi peserta. Sebagai kawasan konservasi dengan ekosistem mangrove, Tahura Ngurah Rai memiliki fungsi ekologis penting dalam menjaga keseimbangan wilayah pesisir, mendukung keanekaragaman hayati, serta memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat. Melalui pendekatan edukasi di kawasan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman melalui diskusi, tetapi juga berkesempatan mengenali ekosistem mangrove secara langsung.
Semangat pembelajaran tersebut diperkuat melalui berbagai kegiatan lain dalam rangkaian festival, seperti aksi bersih waduk, penanaman mangrove, penelusuran jalur jungle tracking, pelatihan pembibitan mangrove, kelas kebencanaan, serta edukasi keanekaragaman hayati dan satwa. Rangkaian kegiatan ini dirancang untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh melalui forum diskusi dengan pengalaman dan tindakan nyata di lapangan.
Kepala UPTD Tahura Ngurah Rai, I Putu Agus Juliartawan, juga menempatkan edukasi dan keterlibatan masyarakat sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan konservasi. Kolaborasi antara pengelola kawasan, Kawan Alam Indonesia, komunitas, dan organisasi kepemudaan diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi serta membangun hubungan yang lebih kuat antara kawasan konservasi dan masyarakat.
Melalui seminar nasional ini, penyelenggara berharap berbagai perspektif yang disampaikan para narasumber dapat menjadi pemantik lahirnya inisiatif konservasi yang berkelanjutan, terutama di kalangan generasi muda. Penguatan pengetahuan, dukungan kebijakan, kepatuhan terhadap regulasi, serta partisipasi masyarakat dipandang sebagai unsur yang saling melengkapi dalam membangun gerakan pelestarian lingkungan.
Pada akhirnya, menjaga hutan dan lingkungan bukan hanya persoalan mempertahankan kawasan hijau, tetapi juga memastikan keberlanjutan sumber daya alam, kehidupan masyarakat, dan hak generasi mendatang untuk menikmati lingkungan yang sehat. Melalui Festival PESONA Tahura Ngurah Rai 2026, semangat mengenal alam, memahami persoalan, dan menumbuhkan kecintaan diharapkan dapat diterjemahkan menjadi keterlibatan nyata generasi muda dalam menjaga masa depan lingkungan.
BERSUARA UNTUK HUTAN, BERGERAK UNTUK MASA DEPAN.
KAWAN ALAM INDONESIA
Organisasi Konservasi - Platform Kolaborasi Multipihak
Bukan Cuma Peduli, Tapi Turun Tangan.
Seminar Nasional Festival PESONA Tahura Ngurah Rai 2026 Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Konservasi
Reviewed by Admin Kab. Semarang
on
Rating: