Breaking News

Aksi Poliandri di Rembang, 'Bajak' Dokumen Bawahan untuk Nikah Lagi


Komando Bhayangkara - Pasutri di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Sucipto (44) dan Badriyah (36), ditetapkan sebagai tersangka pemalsuan dokumen pernikahan. Dengan bantuan Sucipto, Badriyah memakai dokumen asli tapi palsu (aspal) untuk menikah lagi.

Kapolres Rembang AKBP Dany Ario Yustiawan menyebutkan kasus ini terungkap berawal saat korban yang identitasnya 'dibajak' Badriyah, perempuan inisial SC, hendak menikah dengan calon suaminya dan bermaksud mendaftar di KUA Kecamatan Lasem.

Namun berkas pendaftaran pernikahan ke KUA tersebut ditolak karena di KUA Kecamatan Lasem, identitas SC tercatat sudah menikah dengan pria inisial AK. Padahal, SC tak pernah menikah dengan siapapun sebelumnya.

"Terbongkarnya kasus pemalsuan tersebut dikarenakan pemilik identitas asli atau korban (SC) akan menikah dengan calon suaminya, dan pada saat mengajukan pernikahan di KUA Lasem, status pemilik identitas asli (SC) statusnya sudah menikah," kata Dandy dalam konferensi pers di Mapolres Rembang, Senin (13/9/2021).

Identitas SC digunakan oleh tersangka Badriyah untuk menikah lagi dengan AK. Badriyah memalsukan identitasnya seolah berstatus perawan, padahal ia sebagai istri sah Sucipto. Diketahui, Badriyah bekerja sebagai kepala PAUD dan SC adalah guru di PAUD setempat.

"Badriyah menggunakan identitas milik SC untuk menikah dengan AK. Karena Badriyah adalah kepala PAUD, sehingga mudah untuk meminta identitas SC yang merupakan guru di PAUD setempat," jelasnya.

Usai mendapatkan identitas dari SC, proses mengurus pernikahan juga dapat dengan mudah dilakukan oleh Sucipto, suami dari Badriyah. Sebab, Sucipto menjabat sebagai perangkat desa di mana SC tinggal.

"Ngurus surat-suratnya langsung dilakukan oleh Sucipto karena perangkat. Sampai masuk ke KUA, dan lain sebagainya bisa dilakukannya. Bahkan akta nikah juga akhirnya bisa didapat, dan sah. Jadi Badriyah itu menikah lagi dengan AK dengan menggunakan identitas SC," terangnya.

Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Hery Dwi Utomo menambahkan, saat dimintai keterangan, AK mengakui telah mengeluarkan uang mahar hingga senilai Rp 22 juta. Uang mahar itu diberikan kepada Badriyah yang kemudian diserahkan kepada Sucipto.

"Jadi pada awal pernikahan antara tersangka Badriyah dengan korban AK, menyebut kalau telah mengeluarkan uang senilai Rp 22 juta. Uang mahar begitu. Yang kemudian, dari uang itu lah yang digunakan Sucipto membayar utangnya," jelas Hery saat ditemui di kantornya, Selasa (14/9).

Hery menjelaskan, selain uang senilai Rp 22 juta tersebut, Badriyah juga mendapatkan uang jatah dari AK senilai Rp 450 ribu per minggu. Uang itu kemudian diberikan kepada Sucipto untuk kebutuhan sehari-hari.

"Selama pernikahan tersebut Badriyah mendapatkan uang kebutuhan dari setiap minggunya sebesar Rp 450 ribu. Lalu uang tersebut oleh Badriyah diberikan kepada Sucipto," terangnya.

Selain faktor ekonomi, muncul pengakuan jika Badriyah merasa kurang puas dengan Sucipto. Meski begitu, Badriyah tetap mempertahankan ikatan perkawinan dengan Sucipto.

"Jadi selain faktor ekonomi, ternyata sang istri ini merasa tidak puas dengan suaminya. Namun dengan tidak meninggalkan sang suami tersebut. Terjadilah hal seperti itu. Pengakuan korban yang dinikahi oleh Badriyah ini juga merujuk kepada hal tersebut," tuturnya.

Kini, pasutri Sucipto dan Badriyah dijerat Pasal 263 ayat 1 KUHP dengan hukuman penjara 6 tahun.

Terpisah, SC menceritakan awalnya ia mendatangi KUA Kecamatan Sale dan mengetahui namanya dipakai oleh Badriyah untuk menikah dengan AK. Bahkan ia pun mendapat potret resepsi pernikahan Badriyah dengan AK yang dilakukan setahun silam.

"Habis itu saya ke KUA Sale, benar yang namanya Badriyah menikah sama orang Sale. Saya ketemu sama Kepala KUA Sale. Ya udah nanti kita urus sama-sama, gitu," kata SC ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (14/9).

SC pun mengaku kaget dan sedih atas perbuatan Badriyah.

"Sedih nggak bisa menikah. Harusnya nikah tahun 2020 nggak bisa. Alhamdulillah juga suami support, mendukung juga nggak papa orang itu bukan kamu, katanya gitu. Ya nanti kita bersihkan nama kamu bersama-sama katanya gitu," ujarnya.

Kemudian, mereka melakukan mediasi yang dihadiri oleh SC, AK, serta Badriyah dan Sucipto. Dalam mediasi itu, lanjutnya, Badriyah masih enggan mengakui perbuatannya tersebut. Merasa kecewa atas mediasi tersebut, SC pun melapor ke Polres Rembang.

"Kok tega, padahal teman baik, teman curhat juga, karena runtang-runtung berdua, kok tega sama saya. Sedangkan saya juga anak buahnya, kalau di sana tuh saya juga anaknya, beliau ibu saya karena dia adalah kepala sekolah saya. Kok tega seperti itu," akunya.

Yang makin buatnya kecewa adalah Badriyah dan Sucipto memalsukan kematian orang tua SC hanya untuk melancarkan rencana pernikahan dengan AK.

"Memalsukan kematian orang tua saya juga, orang tua saya dibawa-bawa juga di sana. Sampai sekarang kata maaf ya tidak ada. Ini nggak akan dibawa ke kantor polisi kalau mereka berdua ke sini minta maaf. 'Bu, saya minta maaf karena sudah menyakiti perasaanmu' atau gimana itu sampai sekarang nggak ada. Cuma bilang bilang ABCD, membual ke sana-kemari yang nggak jelas sampai saya memberanikan diri untuk diproses dengan hukum," katanya.

Kini SC pun telah menikah secara resmi dengan pria pujaan hatinya. Meskipun dalam proses mengurus pernikahan, mereka membutuhkan waktu hampir satu tahun. (MKB/DETIK)

Foto: Pasutri di Rembang ditangkap terkait dugaan pemalsuan pernikahan, Senin (13/9/2021). (Foto: Arif Syaefudin/detikcom)
Aksi Poliandri di Rembang, 'Bajak' Dokumen Bawahan untuk Nikah Lagi Aksi Poliandri di Rembang, 'Bajak' Dokumen Bawahan untuk Nikah Lagi Reviewed by Komando Bhayangkara on Rating: 5

Tidak ada komentar